Minggu, 17 Maret 2013

Keterampilan Pengelolaan Kelas


KETERAMPILAN PENGELOLAAN KELAS

  A.    Pengertian Pengelolaan Kelas

Proses belajar mengajar di dalam kelas pada hakikatnya akan melibatkan semua unsur yang ada didalam sekolah yang bersangkutan baik itu guru, murid, alat-alat yang dipakai, situasi dalam lingkungan kelas, kelas itu sendiri dan lain-lain. Kelas adalah suatu ruangan sebagai tempat terjadinya proses interaksi belajar mengajar. Suasana yang baik dan serasi adalah kelas yang dapat menyediakan kondisi yang kondusif.
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan oleh guru guna mencapai tujuan pengajaran. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik bagi anak didik sehingga tercapainya tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar. Maka dari itulah pengelolaan kelas sangat penting untuk di ketahui oleh siapapun yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Dalam proses pengelolaan kelas, seorang guru hendaknya mampu merasakan, menilai serta mengoreksi keberhasilannya dalam mengelola kelasnya sendiri, agar sesuai dengan tujuan dan harapan untuk mencapai kesuksesan pribadi maupun bagi siswa sehingga dapat mencapai kepuasan dan siswapun dapat merasakan kesenangan dan kenyamanan sesuai dengan yang diharapkan.
Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan yang menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi optimal jika terjadi yang dimungkinkan dapat mengganggu kegiatan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial.
Dengan demikian keterampilan pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan bila ada gangguan dalam proses interaksi edukatif.



I.               Jenis-jenis Pengelolaan Kelas

Kelas harus dirancang dan dikelola dengan sukses agar memberi hasil yang maksimal. Pendekatan pengelolaan kelas tergantung pada kemampuan, pengetahuan, sikap guru terhadap proses pembelajaran dan hubungan siswa yang mereka ciptakan. Untuk itu seorang guru terlebih dahulu melihat bagaimana jenis kelas yang akan dikelola. Ada beberapa jenis kelas yang harus diperhatikan oleh guru yaitu:
1.      Jenis kelas yang selalu gaduh.
2.      Jenis kelas yang termasuk gaduh tetapi suasananya lebih positif.
3.      Jenis kelas yang tenang dan disiplin.

Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam belajar, di perlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yang meliputi :
1.      Tujuan pengajaran
Tujuan pengejaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam mengajar.
2.      Waktu
Waktu yang tersedia hendaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan, yang selain menggairahkan siswa untuk belajar juga dapat memberikan hasil belajar yang produktif.
3.      Pengaturan ruang belajar
Agar tercipta suasana yang menggairahkan dalam belajar, perlu diperhatikan ruang belajar.
4.      Pengaturan siswa dalam belajar
Kegiatan belajar siswa disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa itu sendiri.

II.                Tujuan Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan, karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas, walaupun terkadang kelelahan fisik maupun pikiran dirasakan, guru sadar tanpa mengelola kelas dengan baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajarnya. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.
Adapun tujuan dalam mengelola kelas yaitu sebagai berikut:
1.             Mengembangkan kemampuan peserta didik secara optimal
2.             Menghilangkan hambatan dan pelanggaran disiplin
3.             Mempertahankan keadaan yang stabil dalam suasana kelas
4.             Membimbing perbedaan individu
5.             Mengatur semua perlengkapan dan peralatan

III.             Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Keterampilan mengelola kelas terbagi dalam dua jenis keterampilan utama yaitu : 1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, dan 2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Yang pertama disebut juga keterampilan yang bersifat preventif dan yang kedua disebut keterampilan yang bersifat represif.
A.    Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini bekaitan dengan kemampuan guru mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran-pelajaran serta kegiatan terdiri dari 6 keterampilan, yaitu:
1.        Menunjukkan sikap tanggap
Keterampilan ini menggambarkan tingkah laku guru kepada siswa bahwa guru sadar serta tanggap terhadap perhatian keterlibatan, malahan juga tanggap terhadap ketidakacuhan dan ketidakterlibatan mereka dalam kegiatan di kelas. Kesan ketanggapan ini dapat ditunjukkan dengan berbagai cara seperti berikut :
a.         Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandang serta interaksi antar pribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk berdialog, bekerjasama, dan menunjukkan rasa persahabatan.
b.         Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat, dan perhatian terhadap tugas serta aktivitas siswa.
c.         Tanggapnya guru dapat engkomunikasikan kepada siswa melalui pertanyaan kegiatan belajar serta siap untuk memberi respon terhadap kebutuhan siswa di kelas.
d.        Memberikan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan maka guru dapat memberikan reaksi dalam bentuk teguran. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada sasaran yang tepat.

2.        Membagi perhatian
Penglolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilaksanakan dalam dua cara, yaitu:
a)         Visual
Dalam hal ini guru mengalihkan pandangannya dari satu kegiatan kepada kegiatan yang lain sedemikian rupa sehingga ia mengadakan suatu kontak pandang yang singkat terhadap sekelompok siswa atau seorang siswa secara individu. Hal ini menunjukan perhatian guru terhadap siswa tertentu namun tidak kehilangan keterlibatannya dengan kelompok atau siswa yang lain.
b)        Verbal
Guru dapat komentar singkat terhadap aktivitas seseorang siswa yang dilihatnya atau yang dilaporkan oleh siswa tersebut, sementara itu ia terlibat dalam supervise atau memimpin kegiatan siswa yang lain.

Penggunaan teknik visual maupun verbal ini menunjukkan bahwa guru menguasai kelas, dan terutama digunakan dalam mengajar kelompok kecil atau mengajar atas dasar perbedaan individu.

3.        Memusatkan perhatian kelompok
Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dapat dipertahankan apabila dari waktu ke waktu, guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilakukan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara-cara berikut:
a.              Menyiagakan siswa. Caranya adalah memusatkan perhatian siswa pada suatu tugas dengan menciptakan suatu situasi yang mempesonakan atau menarik perhatian, sebelum guru menyampaikan pertanyaan, atau mengemukakan suatu topik pelajaran.
b.             Menuntut tanggung jawab siswa. Hal ini berhubungan dengan cara guru memegang teguh kewajiban dan tanggung jawab yang dilakukan siswa, serta keterlibatan mereka dengan tugas-tugas.

4.        Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Komponen ini berhubungan dengan petunjuk guru yang disampaikan secara jelas dan singkat kepada siswa, baik untuk seluruh kelas, kelompok maupun perorangan. Dalam kegiatan harian di kelas guru sering kali perlu memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada siswa tentang aspek-aspek dari pelajaran, tentang suatu  kegiatan tertentu, atau tentang pola tingkah laku mereka. Untuk hal ini, petunjuk guru haruslah bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas, dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar yang dapat dipenuhi oleh siswa.

5.        Menegur
Teguran verbal yang efektif harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a)      Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang harus dihentikan.
b)      Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau mengandung penghinaan.
c)      Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
Guru dan siswa dapat membuat aturan-aturan atau prosedur-prosedur tertentu sebagai bagian daripada “memberikan peringatan”. Hal inipun dimaksudkan untuk memperkecil “ancaman” atau dominasi guru, sebaliknya menanamkan disiplin diri siswa sendiri.

6.        Memberi penguatan
Tujuan dan cara penggunaan komponen keterampilan memberikan penguatan dapat digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan belajar atau mengganggu temannya. Dalam hal ini guru dapat menggunakan dua macam cara, yaitu:

a)      Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu yaitu dengan jalan “merespon atau mendekati” siswa tersebut ketika ia sedang melakukan tingkah laku yang wajar yang menunjukkan keterlibatannya dalam tugas dan juga berusaha “merespon dan mendekati” pada waktu ia bertingkah laku tidak wajar, kemudian menegurnya. Jadi maksudnya agar sikap yang wajar dari siswa tersebut timbul kembali.
b)      Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa lain yang bertingkah laku wajar, dan dengan demikian menjadi contoh atau teladan tentang tindakan positif bagi siswa yang suka mengganggu.


B.     Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan. Beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru:

I.              Memodifikasi tingkah laku
Lima langkah di dalam mengorganisir pendekatan modifikasi tingkah laku, yaitu:
a)             Merinci secara tepat tingkah laku yang menimbulkan masalah berupa gangguan, atau tidak terlibat dala tugas, kemudian mencatat kekerapan dari tingkah laku tersebut.
b)            Memilih suatu norma atau tolak ukur yang realistic untuk tingkat tingkah laku yang akan menjadi tujuan dalam program remedial yang akan dilaksanakan.
c)             Guru dapat bekerjasama dengan rekan sekerja, orang tua, atau konselor untuk mengorganisir suatu pengamatan dan sistem penyimpangan data atau catatan dalam program tersebut utnuk mengukur perubahan tingkah laku, dan untuk melaporkan kemajuan atau perkembangannya kepada siswa dan orang tua.
d)            Guru memilih dengan teliti tingkah laku yang akan diperbaiki setelah dipertimbangkan tingkah laku yang lebih mudah utnuk diubah, tingkah laku yang paling mengganggu dan menjengkelkan yang sering muncul.
e)             Guru harus mempunyai berbagai cara yang luas dan pola penguatan yang siap untuk digunakan dalam meningkatkan tingkah laku yang diinginkan, mengajar tingkah laku yang baru, atau mengurangi dan menghilangkan tingkah laku yan gtidak diinginkan.

II.                Pengelolaan kelompok
Pendekatan pemecahan masalah kelompok dapat dikerjakan oleh para guru sebagai salah satu alternative dalam mengatasi masalah-masalah pengelolaan kelas. Ada dua jenis keterampilan yang diperlukan dalam hal ini, yaitu:
a)    Memperlancar tugas-tugas. Kegiatan ini meliputi empat pola pada tingkah laku gutu, yaitu:
§  Mengusahakan terjadinya kerjasama dan kesatuan dalam tugas.
§  Menetapkan stadar dan mengkoordinasikan prosedur kerja.
§  Memperbaiki kondisi di dalam sistem dengan menggunakan pemecahan masalah melalui diskusi, analisis serta saran-saran siswa mengenai masalah kelas, dan
§  Memodifikasi kondisi di kelas kea rah yang lebih baik.

b)   Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok. Tugas ini meliputi tiga jenis pola tingkah laku guru untuk mendukung dan memelihara kegiatan-kegiatan kelompok, yaitu:
§  Memelihara dan memulihkan semangat siswa.
§  Menangani konflik yang timbul, dan
§  Meminimalkan masalah-masalah pengelolaan.

III.             Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
Pendekatan untuk menangani tingkah laku yang menimbulkan masalah di kelas haruslah berdasarkan pada dua premis, yaitu:
a)      Bahwa tingkah laku yang keliru merupakan gejala yang timbul oleh satu atau sejumlah sebab, dan
b)      Bahwa luasnya tindakan yang akan diambil untuk mengidentifikasi dan memperbaiki sebab-sebab dasar tersebut akan sangat menentukan berkurangnya tingkah laku yang keliru.

IV.        Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar mampu mengelola kelas secara efektif, maka guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Kehangatan dan keantusiasan guru sangat berperan dalam menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
2.      Kata-kata dan tindakan guru yang dapat menggugah siswa untuk belajar dan berprilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya prilaku yang menyimpang.
3.      Penggunaan variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan.
4.      Keluwesan guru dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan.
5.      Guru harus selalu menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemindahan perhatian pada hal-hal yang negatif.
6.      Guru hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.
7.      Guru hendaknya menghindari terjadinya hal-hal berikut:
·         Mencampuri kegiatan siswa, secara berlebihan.
·         Kelenyapan, berhentinya satu penjelasan atau kegiatan yang seharusnya masih berlangsung. Hal ini misalnya terjadi karena guru kehabisan kata-kata ketika menjelaskan, sehingg siswa harus menunggu.
·         Ketidak tepatan memulai dan mengakhiri kegiatan, karena hal ini menyebabkan kegiatan tidak tuntas.
·         Penyimpangan yang berlarut-larut dari pokok pembahasan (misalnya menceritakan humor yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran).
·         Bertele-tele, yaitu mengulangi hal-hal tertentu sampai membosankan.
·         Mengulangi penjelasan yang tidak perlu, karena akan menghambat jalannya kegiatan.


B.      Keteranpilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Komponen Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3 sampai 8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinyahubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa.ketrampilan yang digunakan adalah :
a. Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Salah satu prinsip pembelajaran dalam kelompok kecil dan perorangan adalah terjalinnya keakraban antara siswa dan guru. Hal ini bisa terwujud jika guru memiliki keterampilan komunikasi yang baik secara pribadi. Keterampilan ini memungkinkan guru untuk menciptakan suasanan yang terbuka sehingga siswa bisa mengemukakan segala pikiran dan pemasalahan yang dihadapinya. Suasana ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Menunjukkan kepekaan dan kehangatan terhadap kebutuhan siswa.
2.      Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh siswa.
3.      Memberikan respon positif terhadap pikiran siswa.
4.      Membangun hubungan yang saling mempercayai.
5.      Menunjukkan kesiapan untuk membantu siswa tanpa kecenderungan untuk mengambil alih tugas siswa.
6.      Menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian dan keterbukaan.
7.      Berusaha mengendalikan situasi hingga siswa merasa aman dan menemukan alternatif  pemecahan masalah yang dihadapinya.

b. Keterampilan Mengorganisasikan
Dalam proses pembelajaran dalam kelompok kecil ataupun perorangan , guru berperan sebagai organisator, dimana gurulah yang berperan mengatur dan memonitor kegiatan pembelajaran mulai dari awal sampai akhir.  Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan untuk melakukan beberapa hal berikut ini :
1.      Memberi orientasi umum tentang tujuan, tugas, atau  masalah yang akan dipecahkan sebelum kelompok/perorangan mengerjakan berbagai kegiatan yang telah ditetapkan bersama.
2.      Menvariasikan kegiatan, mencakup penetapan, ruang kerja, peralatan, cara kerja, aturan yang perlu dilaksanakan, serta alokasi waktu untuk kegiatan tersebut.
3.      Membentuk kelompok yang tepat dalam jumlah tingkat kemampuan  dan lain-lain hingga siap  mengerjakan tugasnya dengan sumber yang telah tersedia.
4.      Mengkoordinasikan kegiatan dengan cara melihat kemajuan  serta penggunaan materi dan dan sumber hingga dapat memberika bantuan pada saat yang tepat.
5.      Membagi-bagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan sisw, hingga guru siap datang membantu siapa saja yang membutuhkannya.
6.      Mengakhiri kegiatan dengan suatu kulminasi, dapat berupa  laporan hasil yang dicapai siswa kemudian disertai  dengan penyimpulan tentang kemajuan yang dicapai siswa dalam kegiatan tersebut.

c. Keterampilan Membimbing dan Memudahkan Belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu sisw untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memiliki keterampilan-keterampilan berikut :
1.      Memberikan penguatan yang sesuai dalam bentuk kualitas dan kuantitas karena pada dasarnya penguatan merupakan dorongan yang penting bagi siswa untuk maju.
2.      Mengembangkan supervisi proses awal yaitu mencakup sikap tanggap   guru terhadap siswa secara peroranganmaupun keseluruhan yang memungkinkan guru melligat apakah segala sesuatu berjalan dengan lancar dan memadai.  Bimbingan yang diberikan guru merupakan jaminan bagi tumbuhnya  semangat dan kepercayaan diri siswa untuk melakukan kegiatan.
3.      Mengadakan supervisi proses lanjut yang memusatkaan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan secara efektif  setelah kegiatan berlangsung.. hal ini menuntut keterampilan guru untuk melakukan interaksi antara siswa dan guru, interaksi tersebut dapat berupa :
a.       Memberikan pelajaran atau bimbingan tambahan pada siswa tertentu, baik secara kelompok ataupun perorangan.
b.      Melibatkan diri sebagai peserta dengan hak dan kewajiban yang sama dengan siswa. Kehadiran guru sebagai peserta aktif merupakan motivasi bagi siswa hingga siswa menyadari potensinya sendiri.
c.       Memimpin diskusi bila perlu.
d.      Bertindak sebagai katalisator, yaitu meningkatkan kemampuan siswa untuk berfikir atau belajar melalui pertanyaan, komentar, dan saran.
4.      Mengadakan supervisi pemaduan yang memusatkan perhatian pada penilaian pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyiapkan  pelaksanaan rangkuman  dan pemantapan yang pada akhirnya memungkinkan siswa saling belajar, serta memperoleh wawasan secara menyeluruh tentang kegiatan tersebut. Supervisi ini dilakukan oleh guru dengan  mendatangi setiap kelompok, menilai kemajuannya, serta menyiagakan mereka untuk megikuti kegiatan akhir. Salah satu cara yang efektif untuk  maksud ini adalah mengingatkan   siswa akan waktu yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas.






DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rohani. (2004).  Pengelolaan Pengejaran Edisi Revisi. Jakarta: PT. Remaja Rineka Cipta.

Conny Semiawan, dkk. (1992). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT. Gramedia  Widiasarana Indonesia.

Dadang Sukirman dkk. (2006), Pembelajaran Mikro. Bandung: Upi Press.

Erni Purwati, dkk. (2009). Microteaching. Surabaya: Aprinta.

Masnur Muslich. (2000). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Panduan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawasan Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Muhammad Azhar. (1993). Proses Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Mulyasa. (2000). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Radno Harsanto. (2007). Mengelola Kelas yang Dinamis Paradigma Baru Pembelajaran Menuju Kompetensi Siswa. Yogyakarta: Kanisius Anggota IKAPI.

http//Www.Astitirahayui.Wordpress.Com/2012/03/07/Pengertian-pengelolaan-kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar